#2019gantipresiden

Pemilihan presiden masih tahun depan, tapi hawa panasnya sudah menyeruak dari sekarang. Media sosial sudah mulai tidak menyenangkan, netizen sudah terpolarisasi ke dua kutub -hal yang tidak berubah sejak 2014 lalu. Yang satu mendukung Jokowi, dan yang satu lagi entah mendukung siapa (karena masih belum jelas arahnya). Tapi yang jelas, kubu yang disebut terakhir memiliki satu semangat yang sama: asal bukan Jokowi. Hashtag #2019gantipresiden menjadi buktinya.

Tanyakan kepada mereka yang semangat membuat #2019gantipresiden jadi viral, siapa yang seharusnya jadi presiden? Saya yakin belum ada jawaban seragam dari mereka. Karena memang intinya ya ganti Jokowi, ganti dengan siapanya masih urusan belakangan. Beberapa nama sudah santer terdengar. Prabowo, TGB, AHY, dan Gatot Nurmantyo adalah beberapa nama yang banyak muncul di polling bursa capres 2019. Namun belum ada yang tahu siapa pastinya yang akan menjadi rival Jokowi di pilpres mendatang.

Bukan Pendukung Bukan Hater

Hal yang pertama kali harus saya luruskan dalam tulisan ini adalah saya bukan pendukung Jokowi. Ada banyak hal yang membuat saya kecewa dengan pemerintahan Jokowi. Salah satunya e-Government yang dulu saat masa kampanye katanya 2 minggu selesai, namun hingga saat ini belum ada bentuk riilnya. Saya sebagai seorang programmer merasa terhina karena statement Jokowi tersebut turut menyeret pekerjaan saya dalam janji politik yang ternyata tidak ia tepati.

Apakah kekecewaan saya tersebut membuat saya menjadi hater-nya Jokowi? Tentu tidak. Seberat apapun kekecewaan saya kepada Jokowi, saya masih lebih kecewa dengan diri saya sendiri. Saya dulu pernah bertekad ingin terus shalat lima waktu berjama’ah di masjid, namun hingga kini tekad saya bagai pepesan kosong. Hanya tekad yang tidak disertai realisasi. Persis janji Jokowi. Saya juga sejak lulus kuliah bertekad untuk bisa hidup dengan biaya sendiri, tidak lagi disokong oleh orang tua. Tapi sayang pada kenyataannya, saya masih harus meminjam uang orang tua. Niatnya berdikari tapi rupanya tetap saja menambah hutang. Persis janji Jokowi.

Baca Juga:   Niqabis Jaman Now

Pemimpin Cerminan Rakyat

Ada pameo yang mengatakan bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Melihat diri saya sendiri yang masih saja demikian, maka tidak heran saya memiliki presiden seperti Jokowi.

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129)

Jadi kalau mungkin anda menganggap Jokowi adalah pemimpin zhalim yang layak diganti, maka apa tidak sebaiknya anda berkata juga? Mungkin anda sendiri adalah orang yang banyak melakukan kezhaliman pada diri dan orang lain.

#2019gantipresiden Adalah Solusi?

Kenapa sebagian dari kita sedemikian bernafsu mengganti presiden daripada sibuk memperbaiki keadaan dirinya? Seolah yakin, bahwa dengan mengganti presiden yang saat ini berkuasa, kelak negeri ini akan menjadi lebih baik. Saya bukan sedang membela presiden saat ini, tapi memang ada yang tahu pasti?

Ngomong-ngomong, tulisan di bawah yang saya kutip dari status Facebook seseorang mungkin bisa dijadikan bahan renungan,

Ibnu Umar pernah mengatakan:

“Aku tidak ingin ini menjadi kebiasaan dalam Islam, setiap mereka tidak suka dengan penguasanya, mereka melengserkannya”

[Fadhailush Shahabah, 1/473, no 767, dengan sanad shahih]

Jika Anda berdoa kepada Allah, maka mintalah pemimpin terbaik. Jika memang pemimpin yang lama lebih baik, maka semoga ia tetap memimpin. Jika yang terbaik adalah yang baru, maka semoga Allah ganti pemimpinnya.

Karena tidak selalu pemimpin yang buruk, penggantinya pasti lebih baik. Bisa jadi lebih buruk, kita tidak tahu. Sedangkan Allah Maha Mengetahui yang terbaik.

Tapi kalau Anda yakin sekali tanpa ragu bahwa pasti pemimpin selanjutnya akan lebih baik, ya silakan saja.

Jangan sampai karena ketidaksukaan kita kepada seseorang membuat kita lupa satu hal: berdoa, meminta yang terbaik kepada Allah ‘azza wa jalla.

Baca Juga:   Rabbani dan Aji Mumpungnya Orang-orang Kita

Semoga Allah memperbaiki keadaaan kita dan para pemimpin kita, dan semoga Dia memberikan pemimpin yang terbaik.

Bogor, di bawah hujan menjelang maghrib
15/4/2018

%d bloggers like this: