Bagaimana Bersikap di Depan Perempuan yang Kamu Suka

Hanya ada satu cara yang bisa kamu lakukan jika berhadapan dengan dia, perempuan yang kamu sukai: bersikaplah sebaliknya. Jika kamu memang benar-benar menyukai seseorang dari lubuk hati yang terdalam, maka bersikaplah seakan-akan kamu tidak menyukainya. Kalau perlu, bertindaklah seakan-akan kamu tidak ingin bertemu dia sama sekali. Citrakan dirimu menjadi sosok yang independen, yang tidak tergantung pada kehadirannya, yang tidak menanti salam dan sapanya, yang tidak perlu puji dan kagumnya.

Karena kalau kamu bersikap seperti pengemis cinta di hadapannya, maka kamu akan dipandang sebagai orang lemah, budak cinta, seseorang yang tidak punya prinsip dan tidak berpendirian dalam bersikap. Kamu akan dihujat dengan satu frasa yang akan menjadi label bagi kepribadianmu: orang baperan. Makanya, sikap berkebalikan dari perasaanmu inilah yang harusnya kamu ambil dan kamu terapkan

Secara praktis, langkah-langkah yang harus kamu lakukan bisa dijabarkan ke dalam poin-poin berikut,

Jangan mulai chat duluan

Tunjukkan kalau kamu adalah seseorang yang tidak mengemis perhatiannya dengan nge-chat tidak penting sejenis bertanya apa kabar, sudah makan atau belum, dan sebagainya. Kamu hanya akan terlihat sebagai seseorang yang bodoh, yang mengemis-ngemis atensi dengan cara yang murahan. Kalau sudah begitu, si dia akan jadi merasa di atas angin. Siap-siap kamu akan dipermainkan olehnya.

Kalau memang perlu nge-chat duluan, mulailah dengan chat yang ketus dan tidak bersahabat, maka kamu akan terlihat cool dan misterius. Hindari penggunaan kata “hai” atau “halo” yang hangat, takutnya nanti dia geer. Langsung saja bicara ke pokok inti permasalahan. Alangkah lebih baik lagi kalau kamu buat chat-mu seperti orang yang ngajak gelut. Dia pasti akan memikirkanmu terus menerus karena paradoks yang kamu ciptakan. Karena di saat orang lain nge-chat duluan dengan sok-sok manis, kamu datang dengan chat yang ngajak tubir.

“Kamu dah ngerjain tugasnya belum, C*k?”

Balaslah chat sekenanya

Kadang bukan kita yang memulai, tapi dia duluan yang memancing. Ada kalanya kamu harus waspada kalau ada chat dari dia, karena bisa jadi itu adalah pancingan mautnya. Dia hanya ingin melihat bagaimana kamu bereaksi. Kalau dia nge-chat duluan, maka balaslah sekenanya dan seperlunya saja. Kamu ini cuma balas chat, bukan baca proklamasi, nggak perlu seksama tapi buatlah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Buat chat-mu efektif, bayangkan kalau kamu sedang mengirim pager yang tarifnya dihargai sepanjang karakter pesan. Hindari kata “nggak” dan ganti dengan “g“, buang kata “oke” dan ganti dengan “k“.

Contoh kasus: dia ngajak ketemuan untuk ngerjain tugas. Dia nge-chat kamu “Eh jangan lupa jam 4 nanti kita ketemuan di kampus yaaa

Baca Juga:   Selamat Hari Guru

Mari kita analsisis chat ini. Di sini dia menuliskan kata “ya” dengan mengguanakan tiga huruf ‘a’. Menilik teori Rizana yang berbunyi banyaknya huruf yang sama dalam satu kata berbanding lurus dengan ketertarikan seseorang, maka kata “ya” dengan tiga huruf ‘a’ ini menunjukkan dia sudah mulai tertarik denganmu, minimal sudah mau diajak makan di penyetan Keputih.

Apa kamu boleh senang? Mungkin boleh, tapi jangan luapkan kesenanganmu itu. Karena bisa jadi itu hanya pancingan atau memang dasarnya dia kalau nge-chat kayak manja-manja gitu ke semua orang. Ingat, balaslah sekenanya. Dia hanya perlu konfirmasimu untuk ketemuan jam 4. Cukup satu huruf saja untuk konfirmasi, kan?

“K”

End of chat.

Jangan buat hari ulang tahunnya menjadi hari spesial

Saya punya landasan ideologis tentang ini. Hari (yang katanya) ulang tahun Nabi dalam agama saya saja tidak saya jadikan hari spesial, apalagi ulang tahun dia yang (saat ini masih) bukan siapa-siapa bagi saya?

Oke, terlepas dari landasan ideologi yang kamu anut, jangan jadikan hari ulang tahun dia menjadi hari spesial. Bersikaplah sewajarnya meski lidah sudah kelu ingin mengucapkannya. Ingat, kamu bukan Facebook atau Google yang punya kewajiban untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu adalah manusia bebas merdeka yang memiliki perasaan, dan kamu berhak atas kebebasan berperasaanmu sendiri. Jangan sampai hanya karena kamu menyukai seseorang, kamu tiba-tiba berkewajiban menjadi pengingat dan pengucap ulang tahun yang baik.

Kalau perlu, buatlah tausiyah atau siraman rohani yang mengajak pembacanya untuk mengingat dan merenungkan kematian. Di tengah-tengah euforia ulang tahun yang dia rasakan lewat berbagai kiriman pesan ucapan selamat di media sosialnya, kamu akan menjadi outlier yang tampil beda dari yang lain karena menyebarkan pesan pengingat kematian yang memutus semua kesenangan. Dia akan berpikir kalau kamu tidak ingat ulang tahunnya. Mungkin dia akan penasaran dan bertanya begini kepadamu,

“Kamu ga inget hari ini hari apa?”

Awas, ini pertanyaan jebakan. Tetaplah pada pendirianmu sebagai pengingat kematian.

“Ini hanyalah satu hari dari hari-hari yang terus mendekatkan kita kepada ajal. Bertaubatlah. Bertaubatlah.”

Hindari segala bentuk pertemuan

Pertemuan-pertemuan antara kamu dan dia adalah racun yang berbahaya bagi perasaanmu. Ingat, mungkin dia tidak memegang paham Witing Tresno Jalaran Soko Kulino yang kamu anut. Malah bisa jadi, semakin dia bertemu denganmu, semakin dia muak melihat tingkah lakumu. Kalau kamu masih belum yakin probabilitas keberhasilan hubunganmu dengan dia, maka hindari pertemuan. Begitu juga kalau kamu sudah yakin dia menyimpan perasaannya kepadamu, tetap saja, hindari pertemuan. Kenapa harus selalu menghindar? Untuk membuat dia haus akan kehadiranmu.

Baca Juga:   Berengsek

Tentu saja dalam menghindari pertemuan ini ada caranya, tidak asal menghindar begitu saja. Buatlah alasan untuk menghindari pertemuan dengan alasan yang keren, yang heroik, atau yang akhi-akhi banget. Terserah kamu, mau dengan citra apa kamu ingin dilihat olehnya.

Misalnya kamu di-chat begini oleh dia, “Kak, aku lagi main di Jakarta loh. Kakak kan masih punya janji nraktir aku, lunasin dong janjinya. Ketemuan yuk Sabtu ini.

Pancingan paling berbahaya adalah ajakan ketemuan di sela-sela waktu luang semacam ini. Ingat prinsip tadi, hindari pertemuan dengan menggunakan alasan yang menunjukkan bagaimana kamu ingin dipandang.

Maaf, Dek. Aku ada lembur sebulan ini. Proyek besar” jika kamu ingin dilihat sebagai pekerja keras profesional.

Duh, gua ada agenda 7 summits nih. Mau naik ke Elbrus” jika kamu ingin dilihat sebagai lelaki adventurous.

Aku mau ke Afrika, Dek. Jutaan orang terancam kelaparan di sana” jika kamu ingin dilihat sebagai pekerja sosial berkomitmen tinggi.

Afwan, ukhti, ana mau ke India gabung sama Zakir Naik” jika kamu ingin dilihat sebagai akhi-akhi aktivis tingkat internasional.

Jangan salting

Ada kalanya semesta dikondisikan untuk mempertemukan kamu dan dia meski pertemuan itu sudah dihindari sebisa mungkin. Kalau sudah begitu, usahakan untuk jangan salting alias salah tingkah. Bersikaplah sewajarnya, sewajar sikap kamu ke teman-teman yang lainnya.

Salting itu banyak bentuknya. Dan percaya atau tidak, dia bisa mengenali kalau kamu sedang salting lewat gerakan-gerakan kecil yang kamu lakukan tanpa sadar. Maka dari itu, gerakannya jangan nanggung-nanggung. Buat gerakan besar sekalian. Gerakan kaum buruh misalnya.

Dia tidak akan melihatmu sama seperti sebelumnya. Selain dipandang sebagai seorang yang progresif, kamu juga akan dilihat sebagai seseorang yang peduli nasib kaum proletar. Duhai, kurang seksi apa lagi coba. Hanya wanita yang matanya telah dibutakan kapitalisme saja yang rela menolakmu.

Hasil akhir

Saya pernah mempraktekkan seluruh tips di atas, dan hasilnya?

Dia menikah dengan orang lain. Ya, secara de facto saya gagal memilikinya, meski saya tidak tahu persis apakah nama saya pernah terpatri di hatinya atau tidak. Apakah itu berarti tips-tips di atas salah? Tentu tidak. Tidak ada yang salah dari semua tulisan di atas. Tidak ada.

Hanya saya yang salah memilih.

.

…..

Ternyata dia budak korporat penghamba kapitalisme.

BSD, sebelum ashar
29/12/2017

%d bloggers like this: