Berengsek

Yang saya percayai (dan saya rasakan), ditinggal gebetan yang memilih pacaran dengan orang lain itu lebih menyakitkan daripada ditinggal gebetan yang nikah duluan. Sama-sama sakit memang, tapi sakit yang dirasakan karena ditinggal menikah itu lebih terhormat daripada rasa sakit karena ditinggal pacaran. Karena setidaknya kalau ditinggal menikah, kita ‘merelakan’ dia bersama orang lain yang kelak akan bertanggung jawab atas hidupnya. Sedangkan ditinggal pacaran? Kita seakan merelakan ia menjalankan hidupnya dengan seorang berengsek.

Ya, kalian tidak salah baca. Berengsek. Saya sedang mengumpat di sini. Dan semoga ini satu-satunya umpatan yang ada di blog ini. Izinkan saya menuliskannya sekali lagi.

Berengsek.

Sebenarnya dari sudut pandang orang yang ditinggalkan, baik yang menikahi ataupun memacari seseorang yang menjadi segalanya bagi kita adalah sama-sama berengsek (ups, satu lagi umpatan di blog ini), tapi masa’ saya mengatakan orang yang menyempurnakan separuh agamanya sebagai orang berengsek? Wah, bisa kufur saya.

Itulah salah satu alasan pentingnya belajar agama, biar nggak asal ngatain orang walau perasaan sudah hancur lebur sedemikian rupa. Kudu sabar, sabar, sabar. Fashabrun jamiil.

Sungguh, saya ingin postingan pertama saya di 2018 jauh lebih berfaidah daripada tulisan ini, sayangnya hanya ini yang bisa saya tuliskan. Setidaknya dari tulisan ini kita bisa mendapatkan faidah berupa pemahaman bahwa kata ‘berengsek’ itu ada dalam KBBI. Sehingga lain kali kalau mau mengumpat orang, jangan tulis ‘brengsek’, karena itu tidak baku. Mulailah berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mulailah menggunakan kata baku dari hal-hal sederhana, mengumpat orang contohnya.

Semoga tulisan ini tidak menjadi cela bagi saya ketika saya dipromosikan menjadi CEO Telkom kelak. Aaamiin.

Baca Juga:   #2019gantipresiden

BSD, sebelum ashar
8/1/2018

%d bloggers like this: