Jhoni Boetja, Pahlawan Baru Kita

Dalam hidup, ada banyak pahlawan yang tidak pernah kita kenal. Betapa kita tidak mengenal semua pejuang di pasukan Diponegoro, pun kita tidak mengenal seluruh mujahidin di Perang Paderi. Mereka menjadi pahlawan tanpa ada satu pun yang mengingat nama mereka, padahal dengan harta, keringat, dan darah merekalah kita merdeka. Betapa kita tidak menghargai perjuangan mereka, bahkan untuk mengingat nama pun kita lupa.

Jangan ulangi kesalahan itu lagi. Hari ini, mari kita ingat satu nama yang kelak akan kita ceritakan kepada anak cucu kita, bahwa dialah yang memerdekakan kita dari belenggu tirani korporasi. Dialah yang membebaskan para kekasih dari keraguan menikah karena takut terbentur peraturan perusahaan tempat mereka bekerja.

Sambutlah Jhoni Boetja, pahlawan baru kita.

Kalau nanti 10 hingga 20 tahun lagi hadir anak-anak muda yang ayah ibunya adalah rekan sekantor, maka mereka harus berterima kasih kepada Jhoni Boetja. Ya, dengan perantara perjuangan Jhoni Boetja-lah anak-anak muda itu ada. Jhoni Boetja berjasa membuat ayah ibu mereka yang sekantor bebas merdeka merayakan cinta.

Berawal dari salah satu rekannya yang di-PHK karena menikah dengan sesama karyawan PLN, Jhoni angkat suara melawan kezaliman korporat. Bermodalkan uang sendiri, ia rela bolak-balik Jakarta-Palembang demi memperjuangkan penghapusan satu frasa dari Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, tepatnya ada di pasal 153 ayat 1 huruf f.

Pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahan, atau perjanjian kerja bersama

Frase “kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja…” itulah yang seringkali dimanfaatkan oleh korporat-korporat produk kapitalis jahat untuk melarang karyawannya menikah dengan teman satu perusahaannya. Bayangkan, berapa banyak pasangan yang harus bimbang memilih antara menghalalkan kekasih atau mempertahankan karir karena peraturan zhalim ini. Berapa banyak kisah cinta yang kandas selain karena terhalang restu orang tua, juga kandas karena terancam PHK. *Backsound: Padi – Kasih Tak Sampai*

Tapi semua kisah pilu itu berakhir hari ini, 14 Desember 2017. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan uji materi pasal bermasalah tersebut. Artinya, sebuah perusahaan tidak bisa menetapkan aturan yang melarang karyawannya menikah dengan rekan kerja satu kantor. MK dalam pertimbangannya menyatakan bahwa pertalian darah atau perkawinan adalah takdir, hal yang tak dapat dielakkan. Betapa kita tidak bisa memilih dengan siapa kita bersaudara, betapa kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta.

Baca Juga:   Bagaimana Bersikap di Depan Perempuan yang Kamu Suka

Saya kira hari kasih sayang jatuh pada 14 Februari, tapi ternyata sejak tahun 2017, sudah pindah ke 14 Desember. Terima kasih Jhoni Boetja.

BSD, waktu isya
14/12/2017

%d bloggers like this: