Kebelet Ngiri

Dari dulu mata pelajaran yang paling saya sukai sejak SD sampai SMA, selain biologi pada bab reproduksi, adalah sejarah. Seperti bab reproduksi yang membuat imajinasi saya liar di pelajaran biologi, dalam pelajaran sejarah pun ada satu bab yang merangsang daya khayal saya begitu tinggi. Peristiwa G30S/PKI namanya.

Saya sudah mendengar tentang pahlawan revolusi, PKI, DN Aidit, dan hal-hal seputar 65 lainnya sejak SD. Saat itu saya merasa biasa saja. G30S/PKI hanyalah satu bab dari bab-bab pelajaran sejarah kita. Namun, sebagaimana anak laki-laki baru puber, saya baru merasa peristiwa G30S begitu menggairahkan ketika saya duduk di bangku SMP.

Saya menyalurkan gairah saya kepada seorang teman. Menyalurkan dengan diskusi tentunya. Teman saya ini -sebut saja Dimas- adalah pengejawantahan dua mata pelajaran yang paling saya sukai: otaknya ngeres karena candu video bab reproduksi, dan tindakannya aneh karena mabuk fantasi menjadi orang kiri. Saking mabuknya, ia selalu mengaku lahir tanggal 30 September.

“Biar jadi orang kiri. Kiri itu seksi.”

Dulu kami punya mimpi ikut gerakan kiri. Kami membayangkan diri kami ikut andil dalam gerakan bawah tanah, turut serta mewujudkan masyarakat tanpa kelas. Dengan modal mimpi dan angan-angan kami, kami memproklamirkan diri jadi orang kiri. Padahal, tahu apa yang kami lakukan dulu? Selain serius belajar tentang bab G30S lewat buku pelajaran (yang mana itu adalah kewajiban kami sebagai pelajar), kami melahap biografi Soe Hok Gie, dan menghapalkan puisi-puisi Chairil Anwar, sambil sedikit-sedikit browsing tentang gerakan komunis. Udah, cuma itu aja.

Apa nyambungnya antara biografi Soe Hok Gie, puisi Chairil Anwar sama gerakan kiri?

Nggak ada. Hanya karena sama-sama sarat dengan perlawanan, sama-sama jalang dan liar, jadilah kami mengait-ngaitkannya. Kami merasa berbeda, karena ketika teman-teman kami asyik membahas bagaimana menaikan pangkat di game Point Blank, kami sibuk membahas mengapa Soe Hok Gie menulis buku Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan (padahal baca saja belum pernah). Ya, kami sudah merasa keren dengan (merasa) jadi orang kiri, keren karena merasa progresif. Duh, dasar bocah SMP.

Baca Juga:   Rabbani dan Aji Mumpungnya Orang-orang Kita

Sepuluh tahun kemudian, sindrom merasa keren dan merasa kiri itu saya saksikan muncul pada dedek-dedek emesh yang kebelet ngiri di media sosial. Apalagi isu bangkitnya PKI masa kini, makin ngebuat yang kekiri-kirian makin dicari-cari. Dicarinya beda motivasi loh ya. Kalau dulu yang kekiri-kirian dicari karena motif ideologis, kalau sekarang yang kekirian dicari untuk panjat sosial.

Baru baca Bumi Manusia-nya Pram, udah ngerasa kiri. Baru pakai simbol palu arit, udah ngerasa edgy. Baru sekali ikut diskusi membedah peristiwa 65, udah ngerasa progresif. Kalau sudah begitu, yakin deh, di media sosialnya bangga pasang foto Karl Marx, bangga bisa nulis status pakai quote Tan Malaka, bangga bisa ngetwit masalah sejarah gerakan komunis internasional. Bangga kalau sudah nyicipi kiri.

Penyakit bangga-banggaan ini, tidak lain dan tidak bukan, adalah karena adanya anggapan bahwa menjadi kiri itu seksi. Inilah akibat pelarangan segala aktivitas berbau kiri tanpa memahami apa artinya, membuat kids jaman now makin penasaran dan melakukan pencariannya sendiri. Syukur kalau pencariannya berada di atas jalan yang benar. Lah, kalau salah (seperti saya)? Bisa ngebuat Karl Marx ngelap air mata pakai naskah Das Kapital-nya kali.

Sudahlah, nggak perlu bangga jadi orang kiri. Ngiri itu nggak keren kok. Apalagi kalau ngiri-nya setengah-setengah. Kalau mau jadi orang kiri yang kaffah, jangan pamer buku Madilog-mu di Instagram, karena Instagram menciptakan kelas antara yang ngehitz sama yang nggak ngehitz. Buang jauh itu ponsel iPhone-mu, itu produk kapitalis. Gantilah dengan Xiaomi, produk negara komunis yang tersohor itu. Kalau meragukan keistiqamahan Tiongkok yang dirasa sudah mulai bergeser ke arah kapitalis, coba deh cari smartphone keluaran Korea Utara, kali aja dapet yang ada nomor Kim Jong Un-nya.

Baca Juga:   Kematian Jonghyun Adalah Tragedi, Kematian Warga Palestina Adalah Statistik

Jadi orang kiri kok nanggung amat.

BSD, medio Oktober 2017

%d bloggers like this: