Kematian Jonghyun Adalah Tragedi, Kematian Warga Palestina Adalah Statistik

Maaf, saya tidak mengetahui apa-apa tentang Jonghyun. Jujur saya tidak pernah dengar nama itu sampai akhirnya ia meninggal dan berita tentang kematiannya menghiasi linimasa media sosial. Saya tahu kalau ada boyband Korea namanya Shinee, tapi tidak pernah tahu kalau ada member yang namanya Jonghyun.

Saya juga tidak mengenal Ibrahim Abu Tsurayya hingga berita tentang kematiannya muncul di media. Ketidaktahuan saya tentang Ibrahim persis seperti ketidaktahuan saya tentang Jonghyun. Saya hanya tahu kalau di Palestina sana ada banyak pejuang-pejuang tangguh, tapi saya tidak tahu ada salah satu di antaranya bernama Ibrahim Abu Tsurayya.

Saya sama-sama mengenal Jonghyun dan Ibrahim Abu Tsurayya dari berita di media. Bedanya, nama Jonghyun kerapkali tertera di judul berita (bahkan beberapa media sempat menjadikannya Breaking News), sedangkan nama Ibrahim Abu Tsurayya hanya tertera di tengah-tengah paragraf berita sebagai satu nama dari nama-nama korban tentara Zionis Israel.

Dengan mudah saya bisa menemukan berita mengenai kondisi jasad Jonghyun saat pertama kali ditemukan, kronologi meninggalnya Jonghyun, prosesi pemakaman Jonghyun, sampai berita yang tidak relevan seperti TVXQ yang meneriakkan nama Jonghyun ketika konser, atau Ima yang tidak percaya kalau Jonghyun bunuh diri.

Sedangkan untuk Ibrahim, maaf, hanya ada berita tentang kegigihannya memperjuangkan Palestina dari atas kursi rodanya. Saya tidak menemukan berita tentang unggahan foto menjelang kematiannya, pun tidak tahu bagaimana eksentrik gaya busananya ketika masih hidup. Jika tidak tentang perjuangan dari kursi rodanya, nama Ibrahim hanya muncul di tengah paragraf, tidak menjadi judul apalagi headline berita. Tidak ada artis yang meneriakkan namanya, tidak ada media yang meliput pemakamannya, dan tidak ada Ima yang mengomentari kematiannya.

Baca Juga:   Nggak Ikut Reuni, Karena Memang Bukan Alumni

The death of one man is a tragedy, the death of millions is a statistic” begitu yang konon Joseph Stalin katakan. Melihat pemberitaan tentang kematian Jonghyun dan gugurnya Abu Tsurayya, saya langsung teringat quotes dari mantan diktator Uni Soviet yang kesohor itu. Betapa melimpahnya pemberitaan tentang Jonghyun, dan betapa sedikitnya berita mengenai profil Ibrahim Abu Tsurayya. Karena mungkin dalam kacamata media (dan kita), kematian Ibrahim hanyalah satu statistik penambah angka-angka, sedangkan kematian Jonghyun adalah tragedi untuk umat manusia.

Statistik korban Operation Protective Edge sepanjang Juli-Agustus 2014. Sumber: BBC

Ada anak kehilangan orang tuanya, ada orang tua kehilangan anaknya, ada istri kehilangan suaminya, dan semua tragedi itu ditampilkan di media hanya menjadi digit-digit angka. Ada ribuan hikayat yang siap ditulis, ada ribuan kisah yang bisa diceritakan, ada ribuan pelajaran hidup yang bisa diambil, namun media lebih memilih untuk melipat itu semua dalam bentuk satu tabel statistik.

Saya mengerti, media juga cari duit di sini. Kematian sudah jadi barang murah di tanah perang. Orang sudah jemu melihat puluhan nyawa meregang sekaligus dalam satu kali konflik. Manusia sudah terlalu sibuk untuk mengetahui kisah-kisah para korban yang bergelimpangan. Peduli amat dia siapa, toh kalau sudah berkalang tanah sudah tidak penting lagi untuk dibahas. Puluhan nyawa melayang akhirnya hanya menjadi satu berita yang tampil dalam sekali tayang.

Di sisi lain, media yang cari keuntungan pasti lebih memilih berita yang punya nilai jual tinggi. Berita entertainment yang banyak orang gandrungi menjadi satu topik berita yang tidak pernah sepi pembicaraan. Tengok saja, betapa hidup matinya seorang artis begitu dieksploitasi ke publik, sampai-sampai media lupa untuk memilih mana yang kiranya relevan untuk hidup kita. Contohnya komentar Ima yang entah dia siapa.

Baca Juga:   Rabbani dan Aji Mumpungnya Orang-orang Kita

Apa itu berarti kita perlu mengutuk-ngutuk media? Saya rasa tidak. Media berjalan dengan logikanya sendiri. Jika media memilih bungkam atas apa yang terjadi di Palestina, apakah itu bisa menjadi legitimasi bagi kita untuk memilih diam? Kamu punya logika dan rasa kemanusiaan sendiri yang tidak bisa disetir media. Orang tuamu tidak perlu masuk TV dulu untuk kamu cintai, kan? Begitu juga dengan saudara-saudaramu di Palestina, di Suriah, di Myanmar, dan di seluruh pelosok dunia.

Ini bukan masalah keberpihakan media, ini murni soal kepedulianmu yang mau kamu bawa ke mana. Apakah kematian ribuan warga Palestina kamu anggap tragedi, atau hanya bilangan statistik belaka?

Bogor, waktu dhuha
25/12/2017

%d bloggers like this: