Kisah Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Mari saya ceritakan sebuah kisah bodoh tentang seseorang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebut saja tokoh kita ini bernama Fredrich Setya Novanto, yang demi efisiensi penulisan ala Okezone, kita sebut ia Setya Novanto.

Suatu hari, Setya Novanto baru saja selesai shalat ashar. Rencananya ia akan menyelesaikan draft laporan kerja praktiknya semester lalu pada hari itu. Maklum, deadline pengumpulan laporan kerja praktik sudah begitu dekat, disusul pula dengan deadline pengumpulan proposal skripsi yang sudah menunggu di depan mata.

Mungkin karena lupa membaca dzikir petang, ketika hendak kembali ke lab untuk menyelesaikan pekerjaannya, Setya Novanto dijemput tamu melihat seseorang yang misterius. Misterius bukan karena gelap atau wajahnya tidak kelihatan. Justru sebaliknya, matahari sore sempurna menyinari wajah orang itu, seorang gadis bermata jelita berkerudung oranye. Dia misterius karena Setya Novanto belum pernah melihatnya, pun ia tidak mengetahui namanya.

Setya Novanto seketika merasa bumi berputar lebih pelan. Seketika angin berhenti berembus, tak rela ada debu menerpa mata Setya Novanto yang sedang mengagumi  gadis yang sedang di hadapannya. Lewat tatapan yang tak saling berbalas itu, Setya Novanto merasa relung hati yang selama ini kosong tiba-tiba terisi kembali. Cukup satu tatap dan wajah gadis itu sempurna membanjiri memori.

Setya Novanto tidak mampu menyapa gadis itu, mana berani ia langsung menyapanya? Buru-buru Setya Novanto lari menuju lab. Bukan, bukan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, apalagi untuk lari dari kejaran KPK. Ia segera mencari tahu siapa pemilik mata jelita itu. Ia sudah lama menjadi mahasiswa. Sudah enam kasus enam semester ia lalui di kampus, belum pernah ia melihat atau mengenal gadis itu. Fix, pasti mahasiswa baru. Setelah mencari data mahasiswa baru di kampusnya, barulah ia mengetahui nama gadis itu: (sebut saja) Deisti.

Bagaimana cara mendekatinya?” pikir Setya Novanto. Ia mahasiswa tingkat akhir, sedangkan Deisti mahasiswa baru. Entah event apa yang bisa mengakrabkan mereka berdua. Lagipula tanpa ada event yang mempertemukan, mustahil Setya Novanto bisa mendekati Deisti. Andaikan, andai Setya Novanto sudah berpengalaman jadi penjual beras, supir pribadi, dan dealer mobil pun, ia tidak berpengalaman dalam mendekati wanita. Lah ini, Setya Novanto sudah minim riwayat percintaan, minim riwayat pekerjaan pula. Tidak ada topik pembicaraan yang memungkinkan untuk membuat mereka nyambung. Seengaknya kalau ada pengalaman kerja kan minimal ada satu topik obrolan, harga beras di pasar Keputih misalnya. Sayangnya, Setya Novanto tidak punya modal itu.

Baca Juga:   Andai Dilan Orang Wakanda

Ashar berlalu, maghrib pun tiba. Setya Novanto shalat maghrib berjama’ah di musholla jurusan dan kembali melihat Deisti. Pertemuan mereka bagai pertemuan dua orang yang tidak saling kenal dan tanpa ada usaha untuk saling mengenal satu sama lain. Tidak ada sapa apalagi cengkerama. Begitu pun waktu shalat isya, pertemuan mereka hambar. Meski Setya Novanto sudah gemes ingin menyapa, apa daya ia tak mampu. Malam pun kian merambat.

***

Malam itu harusnya Setya Novanto menginap di lab untuk menyelesaikan tugasnya, namun ia urung melakukannya dan lebih memilih tidur nyaman di kosannya. Ketika Setya Novanto hendak mengeluarkan motor dari parkitan kampusnya, di saat itulah Setya Novanto melihat Deisti dan teman-temannya yang juga ingin pulang.

Bertemu di tiga waktu shalat secara beruntun, dan kali ini bertemu di parkiran. Semesta memang dikondisikan untuk mempertemuan kita, Deisti” ucap Setya Novanto dalam hati. Entah setan apa yang membisikinya, namun malam itu Setya Novanto bertekad akan berkenalan dengan Deisti bagaimanapun caranya, sekalipun harus mencatut nama presiden mengikuti Deisti ke kosannya. Memang ya namanya jatuh cinta, bisa membuat seseorang jadi mirip psychopath.

Rupanya waktu itu Deisti tidak langsung pulang ke kosannya. Ia dan teman-temannya singgah makan di sebuah warung tenda di pinggir jalan. Setya Novanto yang dari tadi mengikuti Deisti berpikir ulang mengenai rencananya, apa ia benar-benar ingin menyapa Deisti malam itu juga? Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia menjadi ragu. Selain karena jam makan malam Deisti yang sudah begitu larut sehingga bisa membuat Deisti gendut, ia juga ragu akan kemampuannya berbasa-basi di depan gadis yang sudah mencuri hatinya dalam sekali pandang.

“Ah, udah jam segini. Nothing to lose lah!”

Setya Novanto akhirnya nekat bergerak. Sengaja ia tidak mengatakan bismillah, karena ia memang yakin kalau tindakannya salah. Setya Novanto memasuki warung tenda itu (yang selama kuliah tidak pernah dikunjunginya). Di dalamnya ada Deisti dan teman-temannya sedang asik mengobrol. Sekali curi pandang saja, seluruh keberanian Setya Novanto hilang. Semua persiapan basa-basi dan kata-kata manis yang ia contek dari novel Dilan mendadak lenyap karena gerogi. Bagai diserang vertigo, Setya Novanto langsung linglung. Di tengah kelinglungannya tersebut, si penjaga warung tenda pun menegurnya.

Baca Juga:   Tokoh Antagonis

“Mau makan opo mase?”

Setya Novanto menunduk diam, persis seorang pesakitan di persidangan.

Pilih opo mas?” ujar penjaga warung sambil menunjukkan lauk yang tersedia, siap digoreng.

“Eeh, anu…tempenya ada? Tempe aja deh kalo gitu. Di…dibungkus ya” kata Setya Novanto gugup.

“Pake nasi mas?”

“Ee..nggak. Eh, pake aja deh. Pake nasi”

“Oke, tunggu dulu ya mas”

Sebenarnya Setya Novanto tidak ingin memesan apa-apa. Dia penganut diet anti makan malam, jadi percakapannya dengan penjaga warung hanya basa-basi untuk dapat berkenalan dengan Deisti yang ada di warung itu juga. Sayangnya Deisti terlalu asik dengan teman-temannya, dan Setya Novanto terlalu gugup untuk melipat jarak. Jadilah Setya Novanto akhirnya hanya menjadi satu dari pelanggan-pelanggan lain, yang datang sekadar memesan makanan untuk kemudian pergi.

Rencana Setya Novanto malam itu gagal total. Ia pulang ke kosan dengan tangan menggenggam sebungkus nasi dengan lauk tempe. Ia hanya memesan tempe, karena memang tidak ingin makan malam. Ia juga memesan nasi karena terpaksa demi menghindari rasa malu di depan abang-abang penjualnya. Masa’ iya ke warung penyetan cuma buat beli dua potong tempe? Setya Novanto tidak pulang dengan tangan hampa memang, tapi ada sepotong hatinya yang dibawa pergi, hilang.

Malam itu menjadi cheat day dari diet anti makan malam Setya Novanto. Ia biarkan pintu kosannya terbuka, membiarkan angin malam masuk ke kamar. Ketika sedang makan, tiba-tiba ada seekor kucing masuk, mengiba-iba sepotong tempe yang tinggal setengah. Karena kasihan, diberikanlah sepotong tempe itu. Tak disangka, itulah awal kisah persahabatan Setya Novanto dengan kucing kosannya, yang dengan sengaja diberi nama Detty, mirip dengan nama orang yang sudah mencuri hatinya dalam sekali tatap.

Tamat.

*Cerita di atas adalah cerita dengan nama-nama tokoh yang fiksi. Kisahnya juga kisah fiksi sih, kalau mau dianggap begitu*

Bogor, ba’da isya
20/12/2017

%d bloggers like this: