Membela Palestina Sejak Dalam Pikiran

“Kita digiring untuk mempermasalahkan ibu kota Israel di Al Quds (Yerusalem) padahal masalah sebenarnya bukan ibu kota Israel. Masalah sebenarnya adalah keberadaan Israel di tanah Palestina itu sendiri. Jangankan ibu kota Israel di Yerusalem, di Tel Aviv pun kita tidak mengakuinya karena itu tanah hak kaum muslimin. Tidak sejengkal tanah, bahkan tidak setitik tanah pun di Palestina yang halal bagi yahudi zionis.

Kita hendak diberi dua pilihan oleh mereka yang dua-duanya menyakitkan. Yang pertama, Ibu kota Israel di Yerusalem dan itu sungguh menyakitkan dan menghinakan. Yang kedua, kita berlaku keras agar ibu kota Israel tetap di Tel Aviv, dan itu seakan-akan kita melegitimasi eksitensi negara mereka.

Semoga Allah menghancurkan Yahudi saudara-saudara babi dan monyet ini.”

-Ust. Fadlan Fahamsyah hafizhahullah dalam sebuah status Facebook-nya, dengan sedikit pengubahan tata letak dan tanda baca-

Andai, andai kita benar-benar peduli dan ingin membela Palestina, kita tidak perlu menunggu Donald Trump jadi presiden Amerika. Klaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Trump hanyalah sebuah peristiwa dari rangkaian panjang peristiwa lainnya yang mungkin terjadi akibat ketidakpedulian kita. Bukankah Trump sudah menjanjikan hal tersebut di masa kampanyenya? Trump hanya menjalankan janji kampanyenya, satu hal yang mungkin kita rindukan dari para pemimpin kita.

Tidak usah menyalah-nyalahkan pemimpin.Kita terlalu sibuk menagih janji mereka, tapi perjanjian kita sendiri dengan Tuhan masih bisa kita abaikan juga. Apa kabar kewajiban-kewajiban yang sudah kita tinggalkan? Sudahkah kita memohon ampun dengan tulus, atau hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja?

Tidak usah menyalah-nyalahkan Yahudi kalau kita masih hidup dengan gaya hidup mereka. Oke, mungkin kita tidak bisa lepas dari produk-produk mereka, tapi yang ada di kepala dan hatimu itu produk dari dirimu sendiri. Dan sayangnya, Minimnya pengamalanmu terhadap ilmu yang kamu punya, itu salah satu ciri khas mereka lho. Coba deh cek tafsir Surah Al Fatihah.

Baca Juga:   Kematian Jonghyun Adalah Tragedi, Kematian Warga Palestina Adalah Statistik

Kita tahu riba haram, tapi masih aja berkubang riba. Kita tahu pacaran itu dilarang, tapi biasa aja tuh ngeliat orang pacaran. Jangankan negur, keinginan mengingkari dalam hati aja jangan-jangan sudah nggak ada. Kita udah tahu kalau berpakaian itu kudu nutup aurat, eh malah nawar-nawar, persis Yahudi nawar ibadah hari Sabat supaya diganti.

Ohiya, jangan lupa kalau orang Yahudi itu suka kebanyakan nanya. Masih ingat kisah orang Yahudi yang disuruh nyari sapi betina untuk mengungkap pembunuhan saudaranya? Disuruh nyari sapi betina, eh malah banyak nanya sampai akhirnya nyusahin diri sendiri. Mirip sama kondisi kita sekarang nggak sih? Kalau ada aturan atau perintah, pakai ditanya-tanya dulu manfaat buat dirinya apa, khasiatnya apa, dll. Gaes, yang namanya syariat itu dijalani pakai iman yang intinya kamu percaya atau nggak kalau syariat itu bakal ngebuat kamu selamat dunia akhirat. Masa’ iya harus baca artikel kesehatan dulu baru percaya kalau makan minum harus duduk? Kalau kayak gitu, itu kamu beriman atau masih mempertanyakan?

Kalau berbuat adil saja sudah harus dilakukan sejak dalam pikiran, apalagi membela Palestina. Membela Palestina sejak dalam pikiran yang saya maksud di sini adalah sedari awal pikiran kita ada untuk Palestina, ada untuk saudara-saudara kita kaum muslimin di sana. Tidak hanya di Palestina, tapi juga di Suriah, Myanmar, dan di semua tempat yang mungkin tidak bisa kita jangkau secara fisik tapi bisa kita jangkau lewat doa.

Ingat, jangan harap kita mampu membela Palestina tapi masih bergaya hidup dan berpola pikir ala Yahudi. Apa mungkin kita bisa mengalahkan orang yang kita tiru? Kalau mau meniru, maka tirulah umat yang berhasil mengalahkan mereka. Tirulah kaum yang berhasil membebaskan tanah Palestina jauh sebelum ia terjajah. Kaum yang harum namanya di dalam sejarah. Siapa lagi kalau bukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal,sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya.

Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?

Lalu beliau bersabda, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?“. (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah satukan hati-hati kita dalam kebenaran. Semoga Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Yaman, Myanmar, dan di seluruh tempat. Semoga Allah memenangkan Islam dan kaum muslimin.

Baca Juga:   Niqabis Jaman Now

BSD, waktu dhuha
16/12/2017

%d bloggers like this: