Nggak Ikut Reuni, Karena Memang Bukan Alumni

Ada pemandangan tidak lazim di Stasiun Bogor semalam. Stasiun yang biasanya cenderung sepi di atas pukul 21.00 (sok tahu banget padahal bukan anak KRL) nampak ramai malam itu. Bukan karena Vyanisti lagi pada ngumpul, karena kalau dilihat dari penampilannya mereka jauh dari kesan penggemar Via Vallen. Saya belum pernah melihat orang nonton dangdut koplo dengan tampilan berjubah, bersarung, dan berpeci, sementara ibu-ibunya berjilbab semua. Daripada disebut penonton OM SERA, lebih cocok dikira penonton Nasida Ria. Tapi kan, lagi nggak ada konser Nasida Ria. Terus ini ramai-ramai pada mau ke mana? Malam-malam pula.

Saya baru ingat ketika melihat tanggal. Mau ada reuni alumni 212. Saya yang seharian habis jalan-jalan di Jakarta seketika bersyukur tidak salah memilih tanggal jalan-jalan. Jakarta yang saya rasa sudah lengang seharian itu tentu tidak lengang lagi jika kelimpahan massa peserta aksi alumni 212 ini.

Ohiya. Reuni, bukan aksi.

Sebab, maaf-maaf kata, saya memang bukan alumni aksi 212 kemarin. Resmi jadi alumni ITS di tahun 2016 aja udah syukur, gimana mau jadi alumni 212? Saya belum siap menyandang dua gelar alumni sekaligus dalam setahun.

Meski tidak ikut dalam aksi 212, doa saya bersama mereka. Karena bagaimanapun mereka saudara saya. Meski tidak sepemikiran dengan konsep ‘jihad konstitusi’ yang menyeru massa untuk turun ke jalan, saya setuju kalau Ahok sudah sepantasnya dihukum atas kata-katanya yang, demi Allah, jika diletakkan di atas laut niscaya lautan itu akan keruh seluruhnya saking kotor dan hinanya kata-kata tersebut.

Saya bersimpati dengan gerakan 212, sampai akhirnya muncul seremoni-seremoni yang, maaf saja, saya rasa tidak perlu. Seperti misalnya muncul Presidium 212 hingga reuni alumni yang dilakukan hari ini.

Baca Juga:   Berengsek

Presidium 212 ini ada dan nyata, tapi jujur saya tidak tahu apa peran, fungsi, dan tujuannya. Yang saya tahu tentang Presidium 212 ini adalah sepak terjangnya dalam membela Harry Tanoe, mengorganisir aksi bela ulama 9 Juni, dan long march membela Hermansyah, pakar IT ITB yang dibacok beberapa waktu lalu. Yah, setidaknya saya masih bisa telusuri kinerja mereka lewat media. Tidak seperti gubernur DKI tandingan yang mungkin saking wara’-nya beliau hingga memilih bekerja dalam senyap tanpa sorot kamera.

Dan tentang reuni 212. Reuni sih silakan-silakan saja. Tapi mengkombinasikan reuni umat dengan acara maulid Nabi, apa nyambung?

Poster publikasi Reuni 212

Begini gaes. Maulid Nabi adalah isu sensitif karena mempolarisasi umat ini ke dalam dua kutub ekstrim: pro maulid dan kontra maulid. Yang pro ya melaksanakan acara maulid Nabi dengan ritualnya masing-masing, sementara yang kontra tentu menolak segala bentuk pengkultusan satu hari di bulan Rabiul Awwal yang tanpa dalil ini. Yang satu mengatakan maulid Nabi sebagai bid’ah hasanah, sementara yang lain mengatakan bid’ah munkarah.

Saya berdiri di pihak yang menyatakan maulid Nabi adalah bid’ah munkarah. Pembahasannya panjang, tapi salah satu alasannya adalah karena 3 generasi pertama umat ini tidak pernah melakukannya. Tidak ada satu riwayat pun yang menyatakan bahwa mereka memperingati maulid Nabi setiap tahun. Padahal kita tahu, maulid adalah acara tahunan. Tidak mungkin para perawi hadits luput meriwayatkan tradisi ini dalam kitab-kitab mereka.

Dan saya yakin, pendapat ini juga dipegang oleh sebagian dari mereka yang ikut aksi, bahkan pentolannya. Yang saya ingin tanyakan kepada mereka, adalah konsistensi mereka dalam memandang maulid Nabi ini.

Mau dianggap apa maulid Nabi ini? Apakah bid’ah hasanah, atau bid’ah munkarah? Kalau memang dibilang bid’ah hasanah, ya konsisten adakan acara maulid tiap tahun. Kalau dibilang bid’ah munkarah, kenapa kok malah ikut-ikutan acara begituan? Mana nahi munkar-nya? Atau mungkin, maulid Nabi sudah masuk ke dalam khilafiyah yang mu’tabar ya? Sehingga tidak perlu melakukan nahi munkar.

Betapa oportunisnya sebagian dari kita hingga mengorbankan prinsip hanya demi jargon persatuan. Persatuan apa yang bisa terwujud jika tidak terjadi amar ma’ruf nahi munkar di dalamnya? Yang perlu disatukan tidak hanya barisannya saja, tapi juga pola pikir dan pemahamannya. Ingat, kita bersatu bukan dengan mentolerir kesalahan, tapi dengan sama-sama berpegang teguh pada kebenaran.

Baca Juga:   Pejabat Easy Come Easy Go

Sebenarnya saya tidak akan menulis tulisan ini jika acara reuni 212 hanya ditulis ‘Reuni 212’, tanpa embel-embel ‘Maulid Agung’. Bayangkan, ada ‘Maulid’ saja sudah salah, tambah lagi ada ‘Agung’-nya. Entah muncul dari mana ide menciptakan frase ‘Maulid Agung’ itu. Saya harap tidak terinspirasi dari frase ‘Jumat Agung’.

Menurut saya apa yang dilakukan Presidium 212 ini, daripada dibilang menyatukan ummat, lebih cocok kalau disebut mengakomodir kepentingan sebagian umat. Mengingat ada umat yang kontra dengan acara maulid, dan maulid Nabi juga harusnya kemarin, bukan hari ini. Perayaan ulang tahun yang telat sehari sekarang disebut agung ya?

Jadi nanti kalau kita lupa mengucapkan selamat milad ke seseorang di hari ulang tahunnya, kita bisa memberi ucapan selamat milad keesokan harinya: Selamat milad agung. Wish u all the best.

Bogor, sebelum zhuhur
2/12/2017

%d bloggers like this: