Niqabis Jaman Now

Ada satu hal yang membuat saya kesal dengan fitur explore di Instagram. Ketika harusnya saya bisa refreshing sejenak dari rutinitas dengan melihat objek-objek indah di Instagram semacam foto-foto pemandangannya Naked Planet, atau post-post uniknya ifyouhigh, atau komik lucu-lucuannya War and Peas (akun-akun penyegar linimasa sejenis UI Cantik nggak perlu disebutin lah ya), mendadak mood saya rusak kalau pas lagi asik-asiknya nge-scroll tiba-tiba muncul akun ukhti-ukhti yang cadaran tapi keliatannya (cuma) buat lucu-lucuan.

Paham maksud saya?

Oh, ayolah. Saya berbicara kepada anda wahai generasi milennials pengguna smartphone, yang saya yakin lebih dari 23 banding 28 (susah amat perbandingannya) dari kalian memiliki akun sosial media satu ini. Bukan tanpa alasan Instagram mendapuk kita menjadi pasar terbesar di Asia Pasifik bagi mereka.

Instagram sebagai sebuah platform sosial media tentu memiliki dampak bagi kehidupan kita. Dan salah satu dampak dari Instagram yang paling saya rasakan: membentuk tren. Instagram layak berbangga, mereka menjadi kiblat bagi kids jaman now untuk menentukan apakah sesuatu itu ngehitz atau tidak. Bahkan ada sebuah kosakata baru yang tercipta karena Instagram, yang mana itu tidak terjadi pada media sosial lainnya. Bukankah kita mengenal kata instagrammable? Tolong segera koreksi kalau saya salah, karena saya belum pernah mendengar ada istilah facebookable atau twitterable.

Nah, salah satu tren yang sekarang sering mampir di linimasa Instagram saya adalah ukhti-ukhti cadaran tapi gayanya kayak buat lucu-lucuan.

Tolong jangan salah paham dulu. Mengenai cadar, saya mengikuti pendapat ahli hadits abad ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah yang menyatakan hukum cadar itu tidak wajib. Itu mengenai cadar. Mengenai hijab syar’i, saya sepakat penuh kalau itu adalah wajib.

Baca Juga:   Membela Palestina Sejak Dalam Pikiran

Saya sangat menghormati wanita berpakaian syar’i. Bagi saya, kemuliaan seorang wanita itu bisa dilihat dari seberapa baik usahanya untuk menutup auratnya. Dan bercadar, adalah salah satu dari beragam cara untuk menutup aurat dengan sempurna. Makanya kalau saya berpapasan dengan perempuan bercadar. Ah, jangankan bercadar, berpapasan dengan perempuan yang jilbabnya berkibar-kibar saja, mata saya sudah otomatis langsung berpaling ke arah lain. Kalau hijab mereka adalah berpakaian syar’i, bukankah hijab saya sebagai laki-laki adalah menundukkan pandangan?

Nah, sayangnya mata saya tidak berpaling secara otomatis ketika melihat niqabi-niqabi (wanita-wanita bercadar) yang hobinya foto-foto terus posting di Instagram. Kalau fotonya cuma satu dua, dan captionnya ilmiah berfaedah sih nggak masuk hitungan. Yang saya maksud di sini adalah para niqabis narsis berkedok ukhti ngasih tausiyah.

Macam-macam jenis niqabis narsis yang saya temui di jagad Instagram ini. Mulai dari niqabis doyan PDA (public display of affection), niqabis tukang galau, niqabis pengompor nikah muda, niqabis reseller hijab, hingga niqabis tukang endorse. Yang mana menurut saya mereka semua punya kesamaan: menjadikan cadar sebagai komoditas. Untuk kalian yang ingin dilihat banyak orang dan jadi selebgram terkenal, lupakan baju berbelahan dada rendah, lupakan rok berbelahan tinggi. Sudah bukan eranya lagi untuk pamer dada pamer paha. Sekarang sudah eranya ukhti-ukhti gaul dengan cadar modifan.

Bukan cuma saya kok yang resah dengan fenomena niqabis jaman now. Ukhti panutan saya sudah menurunkan beberapa tulisan mengenai fenomena ini. Mungkin antunna[1] bisa baca tulisan-tulisan beliau. Mengingat tulisan di blog ini adalah tulisan dari sudut pandang lelaki biasa, bukan akhi-akhi aktivis, apalagi ukhti-ukhti kajian.

Terakhir dari saya, saya sangat menghormati antunna yang sudah memutuskan untuk berjilbab syar’i. Kita sudah saling setuju kok kalau berjilbab syar’i itu wajib, apa mungkin nanti orang tua kita bisa juga saling berbesan ya? Ehem.

Baca Juga:   #2019gantipresiden

Maksud saya, semoga Allah istiqamahkan kita di atas langkah-langkah kebaikan. Jika memang sudah memutuskan untuk berhijab atau bercadar, maka baiknya yang diperbanyak itu ilmu dan amal, bukan model hijab kekinian. Saya bukannya melarang antunna untuk tampil modis. Tampil modis ya silakan, tapi antunna tampil modis itu untuk (si)apa sebenarnya? Modisnya juga jangan menabrak tujuan antunna sekalian bercadar.

Jangan sampai antunna niatnya bercadar untuk melindungi diri dari pandangan liar, tapi malah di tengah jalan antunna mabuk pujian di media sosial.

BSD, ba’da zhuhur
24/10/2017

____________________________

[1] antunna: kata ganti kedua dalam bahasa Arab untuk perempuan jamak

%d bloggers like this: