Pertanyaan Terburuk

Dalam suatu sesi di kelas ketika kuliah dulu, dosen saya bertanya kepada seluruh mahasiswa yang ada di ruangan itu,

Pertanyaan terburuk apa yang pernah terlintas di kepala seseorang?

Kelas hening. Jika biasanya pertanyaan dosen kami adalah seputar algoritma pemrograman, atau seputar bagaimana merancang sebuah perangkat lunak dengan baik dan benar, kali ini dosen kami menanyakan tentang pertanyaan terburuk yang ada di kepala seseorang. Kulihat sekeliling, berharap ada satu dua jenius kelas kami yang berani menjawabnya.

Pertanyaan yang nggak logis, Bu,” jawab Si Jenius 1.

Pertanyaan yang nggak logis justru menantang logika kita sendiri,” ujar dosen kami.

Pertanyaan retoris,” kata Si Jenius 2 sambil malu-malu mengacungkan tangannya.

Pertanyaan retoris malah pertanyaan yang bagus, karena adakalanya pertanyaan retoris menyadarkan kita akan banyak hal,” ucap dosen kami sambil melihat belakang kelas, berharap ada jawaban lain muncul dari deretan bangku belakang. Maklum, Si Jenius 1 dan Si Jenius 2 selalu duduk di bangku depan dan bangku tengah. Membosankan sekali kalau hanya deretan depan dan deretan tengah saja yang aktif.

Nanya kunci jawaban, Bu!

Saya tahu, kali ini bukan Si Jenius 3 yang duduk di samping Si Jenius 1 yang menjawab pertanyaan itu, melainkan si Malas no. 34 yang ada di pojok belakang kelas kami. Gelak tawa seketika menyambut jawaban asal Si Malas no. 34.

Loh, nanya kunci jawaban itu justru adalah usaha terbaik seorang murid!” ujar dosen kami yang disambung gelak tawa lebih keras dari sebelumnya.

Setelah tawa seisi kelas mereda, dosen kami akhirnya melanjutkan kata-katanya.

Baca Juga:   Kisah Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Pertanyaan terburuk itu adalah, pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan. Pertanyaan yang tidak akan pernah mendapatkan jawaban.

Kelas hening, hanya desisan mulut mahasiswa yang berani mengusik.

*****

Keingintahuan adalah fitrah yang tertanam di setiap jiwa seseorang, karena jika tidak ada keingintahuan maka kita tidak memiliki keinginan belajar. Betapa banyak penemuan besar muncul dari rasa keingintahuan seseorang. Isaac Newton yang kejatuhan apel saja bisa menemukan teori gravitasi bumi, itu pasti karena keingintahuannya yang tidak berfaidah besar.

Keingintahuan memicu pertanyaan-pertanyaan, dan pertanyaan-pertanyaan itu menuntut jawaban, dan karena tuntutan akan pencarian jawaban itulah kita menjadi belajar. Kita jadi mencari tahu. Kita jadi bertindak dan bergerak. Dengan begitu, kita berhak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan? Adakah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan memiliki hak untuk mendapatkan jawaban?

Kadang jawaban itu memang tidak pernah datang. Pertanyaan-pertanyaan yang terpendam itu hanya jadi semacam penyemangat dan pemacu kita dalam mencari jawaban yang kita harapkan, yang sayangnya, tidak pernah kita dapatkan. Kita terus bergerak, kita terus bertindak, tapi kita tidak pernah bertanya. Maka bagaimana bisa jawaban itu datang kalau kita tidak pernah bertanya? Kita hanya bisa menerka, menebak, dan merangkai peristiwa-peristiwa sebagai makna, berharap itu menjadi jawaban atas segala pertanyaan kita. Padahal, kita tidak pernah tahu persis akan jawaban yang sebenarnya.

Dan kadang, sebenarnya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sudah terpampang jelas di depan mata kita. Sayangnya, seringkali kita sudah terlanjur dibutakan perasaan. Kita lalai mendapatkan jawaban yang sedianya sudah ada, hanya karena kita berharap mendapatkan jawaban lain yang kita inginkan.

Baca Juga:   Kematian Jonghyun Adalah Tragedi, Kematian Warga Palestina Adalah Statistik

Bertanyalah, sebelum tidak pernah mendapatkan jawaban. Bertanyalah, sebelum jawaban itu datang dengan cara yang menyakitkan.

BSD, di bawah naungan Super Blue Blood Moon
yang menjadi penutup Januari 2018

%d bloggers like this: