Rabbani dan Aji Mumpungnya Orang-orang Kita

Rabbani adalah salah satu brand jilbab favorit keluarga saya. Selain jilbabnya yang instan dan enak dipakai, modelnya yang lebar dan panjang-panjang juga menjadi alasan utama ibu dan adik-adik saya menggunakan jilbab ini. Rabbani memudahkan mereka-mereka yang ingin berjilbab syar’i tapi nggak mau repot merangkai kain kerudung sampai harus nyari-nyari video tutorial. Btw, gebetan saya juga dulu sering pakai jilbab merk ini loh. *ehem*

Rabbani menjadi salah satu pilihan item jika saya ingin memberi hadiah kepada orang lain. Adik saya misalnya, jika ngode minta diberi hadiah di hari ulang tahunnya, jilbab Rabbani menjadi salah satu hal yang pertama saya pikirkan untuk diberi ke adik saya. Karena selain saya tidak tahu hadiah apa lagi yang cocok, memberi jilbab juga berarti mendukung penjagaan aurat seseorang. Bisa jadi ladang amal, kan?

Iya, kalau cara memberinya benar. Tidak aji mumpung seperti yang dilakukan Rabbani baru-baru ini.

Masyarakat Indonesia akhir-akhir ini dihebohkan oleh seorang artis yang melepas jilbabnya. Apalagi sebelumnya, si artis ini pernah menuliskan kata-kata yang bisa sampai tingkat kekufuran di akun media sosialnya. Reaksi orang pun bermacam-macam. Ada yang mendukung, ada yang mencibir, ada pula yang masa bodoh. Di tengah ribut pro-kontra artis melepas jilbab, Rabbani tentu berdiri di barisan kontra. Rabbani bergerak menolak si artis melepas jilbab dengan cara….promosi jilbab Rabbani. Penjual jilbab promosiin jilbab itu logis sih. Daripada netizen yang bisanya cuma nyinyir di media sosial, mending Rabbani yang bisa produktif promosi dagangannya, iya gak?

Ukhtiku @rinanose16 sayang..
Mungkin kamu sedang punya masalah yang cukup getir.
Tapi, bukan maksud mencampuri urusanmu.
Sebagai saudari seiman,sebagai muslimah,
izinkan rabbani memberimu solusi.

Mungkinkah kamu kurang trendi dengan hijab yg beberapa waktu lalu kamu kenakan? Mungkinkah bahannya membuatmu tak nyaman? Mungkinkah saat dicuci terus luntur?
Mungkinkah harganya kemahalan? Ah masa iya artis kondang macam @rinanose16 masih mikir harga mahal.”

Sayangnya Rabbani bermain kurang cantik. Gaya promosi di atas lebih cocok ditujukan kepada anak-anak ABG yang lepas kerudung karena dirasa kurang trendi, atau ditujukan kepada anak SD yang ogah berjilbab karena kegerahan habis main. Promosi di atas tidak cocok untuk artis berumur dewasa yang melepas jilbab karena pergolakan batin.

Baca Juga:   #2019gantipresiden

Baiklah.. apapun itu alasanmu, kuyakin hatimu tengah rindu sesuatu. Sebagai bentuk dukungan dan rasa sayang sesama muslimah, datanglah ke rabbani. Kamu boleh pilih kerudung rabbani yang kamu suka.
Gratis, pilihlah sesukamu wahai saudariku. .
Harga kerudung dan busana muslim rabbani
mungkin tak semahal dengan keputusanmu saat ini. Tapi.. kenyamanan dan kualitas rabbani seperti segarnya air dingin di tengah padang pasir, jika kamu mengenakannya.

Ibarat kata, ada orang yang nggak mau shalat karena merasa ragu dengan kewajiban shalat, terus solusinya dikasih sajadah bermotif indah yang kalau sujud nyaman di jidat.

Saya paham, Rabbani hanya memanfaatkan momen untuk berdagang berdakwah, tapi caranya nggak gini juga kali. Saya pun berdiri menentang apa yang artis itu lakukan. Apalagi kalau melihat tulisannya tentang hidup tanpa agama yang sempat viral itu, akidahnya nampak goncang dan dikhawatirkan jatuh ke dalam kekufuran. Yang dibutuhkan si artis dan orang-orang yang sepaham dengannya adalah pelurusan pemahaman, bukan referensi jilbab mana yang nyaman. Jika memang Rabbani benar-benar berniat mengajak kembali si artis untuk berjilbab, tidak perlulah itu kata-kata “kenyamanan dan kualitas rabbani” ditambah embel-embel “bahan yang nyaman” dan “luntur saat dicuci“. Perilaku inilah yang membuat saya melihat Rabbani begitu oportunis. Bukan oportunis melihat si artis sebagai objek dakwah untuk menutup aurat, tapi menjadikan artis itu objek promosi dan membuat jilbab hanya menjadi komoditas dagang.

Memang dalam marketing kita harus memanfaatkan momen-momen aji mumpung seperti ini, tapi ga gini juga kali ukhti (Rabbani itu akhi apa ukhti ya?).

Orang-orang kita memang dikenal suka memanfaatkan momen aji mumpung, misalnya iklan GO-JEK yang viral beberapa waktu lalu. Di tengah kemacetan yang menyita waktu para pengguna jalan, billboard GO-JEK justru tampil menyita perhatian. Momen aji mumpung ketika pengendara yang mengutuk kemacetan di jalan terhibur membaca tulisan billboard GO-JEK itu sungguh -meminjam istilah jilbab Rabbani- seperti segarnya air dingin di tengah padang pasir.

Bravo, GO-JEK!

GO-JEK sebagai penyedia layanan transportasi memanfaatkan momen ketika pengguna jalan membutuhkan transportasi yang bisa membelah kemacetan. Nah, kalau itu pas. Kalau orang yang lepas jilbab karena faktor ideologis apa bakal tertarik pakai jilbab karena faktor kenyamanan? Nggak masuk blas.

Baca Juga:   Berengsek

Masih ada lagi contoh lain aji mumpung di masyarakat kita, dan yang ini lebih kejam. Jika Rabbani memanfaatkan artis yang baru lepas hijab, Okezone malah memanfaatkan kematian seseorang untuk mendulang untung.

Di tengah hebohnya kasus Setya Novanto, Okezone merilis sebuah berita dengan judul sensasional: Setya Novanto Ditemukan Tewas Mengambang di Pantai Baron. Okezone memang bisa berkilah kalau berita adalah komoditas utama yang dijual media, tapi saya yakin orang yang berakal sehat akan melihat tindakan Okezone ini tidak tahu malu. Kalau memang benar-benar tidak memanfaatkan momen itu, kenapa Suhendi, Riansyah, dan Fadilah Ramadhan tidak dijadikan judul berita juga? Dear Okezone, asal kalian tahu, orang tua Dwi Setya Novanto memberi nama anak mereka bukan untuk dijadikan clickbait.

Oh iya. Kalau Rabbani ingin marketingnya makin tokcer, mungkin bisa mengikuti langkah Okezone. Entah dengan mengajak istri Setya Novanto untuk berjilbab, atau kalau perlu mengganti nama Rabbani jadi Dwi Fredrich Yunadi. Bayangkan kalau nanti muncul berita:

Fredrich Yunadi Mengajak Seluruh Artis dan Masyarakat Indonesia Berjilbab.

Sungguh akan menjadi contoh penggunaan aji mumpung yang revolusioner. Bravo Rabbani! Eh, maksudnya bravo Dwi Fredrich Yunadi!

BSD, waktu dhuha
28/11/2017

%d bloggers like this: