Selamat Hari Guru

Saya bukan termasuk siswa yang berprestasi ketika sekolah dulu. Dari SD hingga SMA, rekam jejak akademik saya bisa dibilang termasuk kelas menengah. Dalam lingkar pergaulan pun, saya hanya anak rata-rata yang tidak menonjol. Saya bukan anak gaul, bukan anak akademisi, bukan pula anak organisatoris. Jadi, kontak saya dengan guru tidak banyak. Terbatas pada ruang kelas dan jam pelajaran yang ada. Berbeda dengan anak gaul yang mungkin mudah dikenali guru, atau anak akademisi yang rajin ikut lomba dan berprestasi, atau anak organisasi yang sibuk ngajuin proposal dan ngurus event. Mereka dengan mudah dikenali guru karena urusan mereka masing-masing yang membuat kontak mereka dengan guru cukup intens.

Sedangkan saya? Saya bukan anak yang meninggalkan banyak kesan kepada guru-guru saya. Entah masih adakah guru yang ingat kepada saya. Tapi bagaimanapun, meski saya tidak diingat dengan baik oleh guru-guru saya, saya mengingat baik siapa-siapa guru yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya.

Contoh guru geografi zaman SMP dulu. Namanya Pak Rudi. Yang saya ingat dari beliau, beliau menganjurkan kami, anak didiknya, untuk menikah di musim dingin. Alasannya?

“Karena kalau musim dingin itu enak. Siangnya pendek, malamnya panjaaang.”

Atau contoh lain, guru bahasa Indonesia saya kelas X. Namanya Pak Agus Sunarya. Dulu saya dan teman-teman yang lain menyebut beliau Agus Suneo, tidak lain karena fisiknya mirip dengan tokoh kartun yang menjadi sohib Giant tersebut. Beliau berpesan kepada anak-anak di kelas kami, khusunya perempuan, untuk jangan mau jadi korban gombalan lelaki yang mengaku-ngaku menjadi Arjuna.

“Arjuna itu istrinya banyak. Jadi jangan bangga kalian kalau digombalin ‘akulah arjunamu’ sama laki-laki. Jangan-jangan, kalian nanti mau dijadiin istrinya yang ke-99 lagi.”

Pantas saja prestasi akademik saya tidak begitu cemerlang. Yang saya perhatikan dari guru ketika di kelas adalah tingkah laku mereka, bukan materi pelajaran yang mereka ajarkan. Bukan bermaksud apa-apa, tapi menurut saya hanya menyimak materi pelajaran saja ketika di kelas tentu membosankan. Bukankah materi itu sudah ada di buku teks? Guru berada di depan kelas tidak hanya untuk mengajarkan materi yang ada di kurikulum, tapi juga mengajarkan pelajaran-pelajaran yang tidak ada di kurikulum: pelajaran hidup. Mereka mengajar di depan kelas tidak hanya karena mereka menguasai apa yang ada di buku teks, tapi juga mereka memiliki pengalaman yang mungkin tidak akan kita dapatkan di buku teks manapun, dan itu yang harusnya kita perhatikan baik-baik.

Baca Juga:   Kisah Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Pak Agus Suneo misalnya. Di kelas X dulu, saya sudah diajarkan bahwa kelak jika kita menyusun skripsi ketika kuliah nanti, sebaik apapun tulisan kita dan sekeras apapun usaha kita merampungkan skripsi itu, pasti akan dicorat-coret sama dosen juga. Iya, itu dikatakan beliau ketika melihat tugas saya yang acak-acakan, dan saya berkelit bahwa saya sudah mengerjakan tugas itu sebaik mungkin.

“Nanti kamu bakal ngerasain, tugas yang sudah bolak-balik kamu kerjakan susah payah itu malah dibuang ke tempat sampah. Berkali-kali. Masih untung ini cuma saya corat-coret sekali. Jadi nanti, siapkan mental kamu ya.”

Terbukti, materi-materi yang beliau ajarkan sudah banyak yang menguap dari kepala, tapi mental yang beliau tanamkan saat itu masih kuat mengakar dalam sanubari *ceilaah*

Terakhir, untuk menutup tulisan sederhana yang tidak jelas ini, saya ingin menuliskan sedikit tentang guru lain yang paling saya ingat. Namanya Pak Darwin, guru olahraga SMA. Kalau melihat sosok dan kepribadian beliau mungkin akan langsung teringat Ahok, mantan gubernur DKI itu. Hanya saja perutnya lebih besar dan saya tidak pernah mendengar beliau menistakan suatu agama. Tapi kalau masalah ceplas-ceplosnya mungkin sama.

“Lari 6 keliling GOR ngeluh? Ibu hamil aja bisa lari 7 keliling!”

“Ayo terus lari! Emang kalo hujan kenapa? Sapi aja hujan-hujanan!”

“Kalau saya jadi guru sosiologi kamu, saya bakal praktek langsung. Saya bakal bawa kamu ke stasiun, terus nunjukin mana muka copet, mana muka bajingan.”

Pengalaman hidup apa yang saya dapat dari Pak Darwin selain kata-katanya yang nyeleneh itu? Bahwa ternyata, kemalasan itu bisa membuat perut gendut.

“Saya ini dulu badannya bagus. Gara-gara ngajar kalian aja nih yang malas-malasan makanya saya jadi gendut.”

Terima kasih Pak Darwin, dan terima kasih untuk seluruh guru yang telah mengantarkan saya hingga saya bisa menjadi seperti ini.

Baca Juga:   Shalat Subuh Di Meikarta

Di nuansa hari guru ini, izinkan saya menulis tentang kalian. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Maka izinkanlah saya mengabadikan kalian, menjadi bahan cerita kelak di masa depan. Cerita yang baik-baik tentunya, bukan cerita lucu-lucuan seperti nama Suneo itu.

Kelak ketika saya membuka catatan kecil ini suatu saat nanti, saya akan ceritakan kepada anak cucu saya bahwa saya memiliki guru-guru yang inspiratif, dengan satu-dua ada yang absurd. Tidak ada yang melarang guru untuk absurd kan? Justru dengan itu kalian telah mendidik saya dengan lebih manusiawi.

Selamat hari guru!

*Kalian pasti bangga dengan saya saat menuliskan ini kan? Meski kalian tidak ingat saya, saya ingat kalian dengan baik. Saking ingatnya, saya sampai lupa kalau hari guru itu kemarin, bukan hari ini.*

¬†Bogor, ba’da maghrib
26/11/2017

%d bloggers like this: