Semua Unek-unek Soal Nyinyiran Netizen, Peraturan Baru, dan Aksi #KartuKuningJokowi

“Sudah saatnya lidah netizen lebih kita takuti daripada lidah mertua.”

Sebelumnya saya minta maaf kepada para pembaca setia blog ini (yang saya juga ragu ada atau tidaknya mereka) kalau beberapa postingan terakhir blog ini keluar dari garis perjuangannya sebagai blog nyinyir dan julit-in orang-orang. Sudah saatnya Indantia.id kembali ke khittah awalnya: nyinyir. Dan dalam tulisan ini, izinkan saya menyinyiri kaum-kaum paling nyinyir sejagad. Siapa lagi kalau bukan netizen kita (yang ironisnya saya juga jadi bagian di dalamnya)?

Tajamnya Lidah Netizen dan Hal-hal Baru di Pemerintah Kita

Tajamnya lidah netizen kita dalam menyinyiri orang sudah tidak perlu diragukan lagi. Saking tajamnya, salah satu politikus kita sampai-sampai mengusulkan agar pembuatan akun media sosial harus berdasarkan e-ktp. Kalau usulan ini ditindaklanjuti, siap-siap netizen kita kehilangan perisai anonimitasnya yang selama ini digunakan untuk menyinyiri orang lain.

Ohiya, sudah pada tahu belum kalau anggota dewan kita baru mengesahkan revisi UU MD3 yang salah satu pasalnya bisa memperkarakan orang-orang yang merendahkan kehormatan anggota dewan? Nah loh, selain orang-orang yang demo di depan gedung DPR, siapa lagi yang bisa merendahkan kehormatan anggota dewan selain netizen? Siap-siap netizen, nyinyiran kalian ke DPR akan dikriminalisasi.

Memang, dua hal yang disebut di atas tidak berhubungan langsung dengan nyinyiran netizen. Usulan pembuatan akun medsos dengan e-ktp lebih disebabkan karena banyaknya berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial. Begitu pun revisi UU MD3 yang memang tidak ada hubungan langsung dengan nyinyiran netizen. Namun yang perlu diperhatikan, lahirnya revisi UU dan usulan peraturan baru tersebut saya kira tidak lepas dari gaduhnya netizen kita berkoar dan bersuara di bilik media virtualnya. Baik lewat status di media sosial, atau tulisan-tulisan di blog, netizen kita seakan tidak pernah kehabisan ide untuk menyinyiri atau mengkritisi siapapun yang berseberangan atau dirasa tidak sreg dengan mereka, tidak terkecuali pemerintah dan anggota dewan.

Baca Juga:   #2019gantipresiden

Mulai dari cemoohan ke akun Twitter resmi DPR RI sampai meme-meme Setya Novanto memberi gambaran betapa gagahnya netizen kita merundung wakilnya yang duduk di kursi parlemen. Mereka seakan tidak takut dicyduk karena komentar-komentar pedas yang mereka layangkan. Mungkin karena netizen lebih takut tercyduk Deddy Corbuzier kali ya daripada dicyduk anggota DPR.

Tapi ingat netizen sejawat, UU MD3 yang baru sudah disahkan loh. Belum lagi kalau usulan pasal penghinaan presiden jadi disahkan, pemerintah baik eksekutif maupun legislatif haram kau nyinyiri karena nyinyiranmu itu bisa dikriminalisasi.

Nyinyiran Netizen, Zaadit, dan #KartuKuningJokowi

Saya ucapkan selamat kepada pemerintah kita yang sudah mengamankan posisi mereka dari tembakan nyinyiran para netizen. Sayangnya, belum ada UU atau peraturan khusus yang mampu melindungi warga biasa dari kebiadaban netizen kita. Contoh kasus kebiadaban netizen yang saya angkat dalam tulisan ini adalah kasus nyinyiran netizen kepada aksi #KartuKuningJokowi yang viralnya sempat saingan sama berbagai macam video parodi Dilan.

Yang perlu diketahui (dari yang saya ketahui), aksi #KartuKuningJokowi adalah aksi yang dilakukan oleh seorang dedek emesh bernama Zaadit Taqwa, Ketua BEM UI, yang ujug-ujug meniup peluit dan mengangkat buku kuning ketika Presiden Jokowi baru saja berpidato di acara Dies Natalis UI. Ada tiga isu yang diangkat dalam aksi ini, yaitu soal KLB Asmat, campur tangan perwira aktif dalam urusan sipil yang dikhawatirkan membangkitkan dwifungsi ABRI, dan draf peraturan baru mengenai organisasi mahasiswa (ormawa). Tiga isu ini tidak lahir dari otak Dek Zaadit sendirian, melainkan hasil dari kajian yang dilakukan dedek-dedek di BEM UI.

Sampai sini paham?

Baik. Saya kira lahirnya pro-kontra soal aksi Dek Zaadit ini wajar. Munculnya adu argumen sampai bisa membuat Dek Zaadit dan dedek-dedek ketua BEM yang lain masuk Mata Najwa juga biasa. Yang tidak wajar dan tidak biasa adalah nyinyiran netizennya.

Baca Juga:   Pejabat Easy Come Easy Go

Saya bisa bayangkan, hasil kajian yang sudah digodok oleh teman-teman BEM UI, yang sudah lewat pembahasan panjang, yang disuarakan oleh Dek Zaadit itu, langsung dipatahkan oleh nyinyiran netizen yang entah muncul dari mana, yang identitasnya tidak jelas pula. Yang lebih membuat saya tepok jidat lagi, nyinyiran netizen tidak memperhatikan substansi dari tiga isu yang disuarakan Dek Zaadit. Udah mah yang diangkat ada tiga isu, tapi nyinyirannya cuma soal Asmat.

Kadang netizen kurang cerdas dalam melihat isu. Netizen kita lebih cerdas dalam membunuh karakter ūüôā

Dear netizens, coba kalau mau nyinyir lihat masalahnya secara keseluruhan. Bukan cuma soal Asmat, ada juga soal terlibatnya perwira aktif di ranah sipil, juga soal peraturan baru tentang ormawa. Jangan hanya karena Zaadit tidak berangkat ke Asmat kalian jadi lupa soal dua isu lainnya. Kalau sampai ada kejadian dipopor senjata kayak zaman orba baru deh tahu rasa.

Baik, silakan nyinyir soal Zaadit yang ternyata omdo karena tidak ikut ke Papua. Kalian berhak nyinyir soal itu. Saya juga mau deh ikutan nyinyir kalau bahasnya itu. Nyinyirlah sepuas-puasnya. Selama Zaadit masih jadi Ketua BEM UI, selama nilai-nilainya masih jeblok, selama badannya masih tambun, selama dia mirip Farhat Abbas, selama dia masih pinjam jas kuning kalau mau konferensi pers, silakan nyinyiri sebiadab-biadabnya.

Nyinyiri saja Zaadit Taqwa, sebelum ia jadi presiden, sebelum ia jadi anggota DPR. Sebab jika ia jadi presiden atau berhasil duduk di parlemen, siap-siap dijerat pasal penghinaan presiden atau kena UU MD3. Jangan-jangan dia screenshot semua nyinyiran kita.

Bogor, waktu dhuha
18/2/2018

____________

Sumber gambar:

-Youtube Cyanide and Happines

-Youtube Deddy Corbuzier

%d bloggers like this: