Shalat Subuh Di Meikarta

Salah satu kebiasaan buruk saya yang ingin saya hentikan adalah terlambat shalat subuh. Tolong Jangan salah paham. Yang ingin saya hentikan itu terlambatnya loh ya, bukan shalat subuhnya. Saking terlambatnya, kadang saya dikira sedang shalat dhuha. Tapi tenang, ngga pernah nyampe dikira shalat qabliah zhuhur kok.

Mengenai alasan saya terlambat shalat subuh, apalagi kalau bukan karena terlambat bangun. Beberapa alibi yang saya gunakan sebagai pembenaran keterlambatan saya diantaranya,

Yang pertama, tidur larut malam

Bukan karena saya ingin tidur larut malam. Saya termasuk orang yang mencintai tidur. Sayangnya, rutinitas kadang memaksa saya untuk menghabiskan waktu yang sedianya saya pakai untuk tidur malah dipakai untuk hal lain. Kerja misalnya. Jarak rumah ke kantor yang lumayan jauh mengakibatkan saya lelah duluan di jalan. Sampai di rumah, bukannya langsung tidur, eh malah galau mikirin kamu. Jadi makin nggak bisa tidur kan.

Yang kedua, azan subuh yang tidak terdengar 

Dasar anak milennials yang tidak ingin disalahkan. Diri sendiri yang tidak terbangun, malah speaker masjid yang disalahkan. Coba kalau speaker masjidnya gahar meraung, garang merobek cakrawala, saya tidak perlu memakai alarm yang tidak berguna itu. Kalau alarm kan bisa langsung refleks saya matikan, kalau dengar dari speaker azan kan masa’ saya matikan muazinnya?

Yang ketiga, waktu subuh di Indonesia yang terlalu cepat

Inilah alibi paling syar’i yang saya miliki. Saya berkilah dengan menggunakan alasan kalau waktu shalat subuh di Indonesia ini perlu dikoreksi karena terlalu cepat. Ini bukan rekaan saya loh ya. Masalah ini sudah ada sejak lama.

Dulu ketika saya kuliah, ada masjid di seberang kosan saya yang azan subuhnya selalu terlambat sekitar 20-30 menit dari masjid lainnya. Ketika saya tanya pengurusnya, ia menjawab kalau waktu shalat subuh di Indonesia perlu dikoreksi. Katanya, waktu subuh di Indonesia itu menggunakan fajar kadzib yang muncul beberapa waktu sebelum fajar shadiq, padahal waktu shalat subuh yang tepat adalah fajar shadiq. Jadi, katanya, waktu subuh yang tepat adalah sekitar setengah jam dari waktu subuh yang umum digunakan di Indonesia. Mana yang benar? Wallahu a’lam. Mungkin artikel ini bisa dijadikan referensi.

Baca Juga:   Selamat Hari Guru

Apa Solusinya?

Menghadapi masalah keterlambatan shalat subuh ini, dengan melihat alibi-alibi saya di atas, mungkin ada satu solusi yang harus saya coba: Pindah ke Meikarta.

Saya tidak perlu menghabiskan waktu di jalan. Wong ke mana-mana dekat, aksesnya juga mudah. Ke jalan tol dekatke stasiun dekatke bandara dan lrt juga dekat. Saya juga tidak perlu galau mikirin kamu. Masa’ iya sih kamu nggak mau diajak hidup bersama di Meikarta?

Saya tidak perlu menyalahkan masjid karena speaker-nya yang kurang kencang. Karena yang saya lihat dari iklannya, tidak ada masjid di Meikarta.

Kalau pun ada masjid dan terdengar azan di Meikarta, saya tidak perlu khawatir tentang waktu shalat subuhnya. Kata teman saya, di Meikarta subuhnya jam 10.00. Sungguh nikmat yang hqq.

Ketika curhat di medsos berujung solusi yang brilian

Sampai ketemu, di Meikarta! (kalau jadi)

BSD, waktu ashar
26/10/2017

%d bloggers like this: