Tokoh Antagonis

Kalau kita membayangkan hidup ini adalah drama, pernahkah kita menunjuk diri sendiri sebagai tokoh antagonisnya? Atau jangan-jangan, kita selalu memposisikan diri sebagai tokoh protagonis dalam seluruh skenario hidup yang kita jalani?

Jika kita menjalani peran sebagai murid, mungkin kita akan memposisikan guru galak sebagai antagonisnya. Jika kita menjalani peran sebagai karyawan, kita memposisikan bos bawel sebagai antagonisnya. Jika kita menjalani peran sebagai orang yang sedang jatuh cinta, maka orang lain yang bersama dengan seseorang yang kita cintai otomatis akan jadi tokoh antagonisnya.

Kenapa kita selalu membutuhkan tokoh antagonis dalam setiap episode hidup kita? Apa karena kita merasa bahwa hidup ini adalah pementasan drama kita sendiri yang jadi tokoh utamanya, sehingga siapa-siapa yang menghalangi kebahagiaan kita, langsung bisa disebut sebagai tokoh antagonis?

Pernahkah berpikir, jangan-jangan selama ini kitalah yang menjadi tokoh antagonisnya? Hanya karena merasa bahwa kitalah tokoh utama, lantas kita lupa bahwa kita pun hadir dalam episode hidup orang lain.

Di dunia ini kita tidak pernah hidup sendiri. Jika populasi manusia saat ini ada enam milyar, artinya ada enam milyar drama, ada enam milyar narasi, ada enam milyar tokoh utama yang berjalan beriringan sekaligus dalam satu waktu. Kita boleh jadi tokoh utama dalam narasi kita sendiri, tapi dalam narasi orang lain? Mungkin kita adalah pemeran pembantu, mungkin juga kita jadi tokoh figuran, dan seringkali, kita memang tidak pernah mendapat peran dari awalnya.

Lantas apa kita berhak memvonis orang lain sebagai tokoh antagonis hanya karena ia menghalangi kebahagiaan kita (yang merasa menjadi) sang tokoh utama? Jangan geer dulu. Bisa jadi sebenarnya kita hanya pemeran pembantu, atau mungkin malah kita yang jadi tokoh antagonisnya. Kita belum tentu tahu definisi bahagia dalam narasi orang lain, kan?

Baca Juga:   Pertanyaan Terburuk

Atau jangan-jangan, kita memang tidak pernah mendapat peran dalam narasi orang lain, yang ironisnya, sudah kita jadikan tokoh utama dalam hidup kita?

Makanya, jangan geer.

Stasiun Manggarai, sambil menunggu KRL terakhir menuju Tanah Abang
13/11/2017

%d bloggers like this: