You Are the Proposal of My Daisakusen

“I realized that the regret from not doing something at all is more painful than failure.”
-Proposal Daisakusen-

Kalau saya disuruh memilih all-time favourite movies dan all-time favourite TV series dari seluruh film dan serial drama yang pernah saya tonton, saya sudah menetapkan satu judul yang menjadi pemuncak klasemen untuk masing-masingnya. Kalau film, saya memilih You Are the Apple of My Eye (2011) yang berasal dari Taiwan. Sedangkan untuk serial drama saya memilih Proposal Daisakusen (2007), sebuah serial drama asal Jepang.

Alasannya sederhana, saya tidak pernah bosan menonton keduanya. Meski sudah saya tonton ulang keduanya masing-masing hingga tiga kali (bused nganggur parah lu Gin), saya tidak pernah bosan dengan jalan ceritanya, saya masih tertawa dengan humor-humornya, dan yang paling penting, perasaan yang terlarut dalam emosi pun masih sama. Tiga kali saya nonton keduanya, tiga kali saya baper. Artinya kalau ditotal jadi enam kali saya baper karena dua tontonan bedebah ini (curhat, Gin?).

Kedua tontonan ini mengambil tema yang sama: dua orang yang saling jatuh cinta di masa SMA tapi masing-masing tidak mampu untuk mengungkapkannya. Cerita klasik akibat laki-lakinya yang tidak peka dan perempuannya yang lebih memilih diam memendam rasa, atau sebaliknya.

Kedua tontonan ini dengan baik membawa penonton mengikuti alur kisah cinta para pemeran utama di masa SMA mereka. Dan keuntungan kedua tontonan ini adalah mereka tidak perlu ribet menjelaskan kepada penonton bagaimana sih hidup di masa SMA itu, karena masing-masing dari kita pernah merasakannya bukan? Masa-masa saat mungkin kita pernah belajar dengan giat, atau sibuk dengan kegiatan ekstrakulikuler, atau sekadar bersenda gurau dengan teman dengan lawakan-lawakan yang kocak dan sedikit nakal. Baik Proposal Daisakusen maupun You Are the Apple of My Eye berhasil men-capture momen-momen SMA tersebut dan menyajikannya kepada penonton dengan apik. Sehingga jangan heran ketika kita menonton kedua tontonan ini, kita mampu merefleksikan adegan-adegan yang muncul ke dalam momen-momen SMA kita sendiri.

Setelah SMA, terbitlah kuliah. Baik You Are the Apple of My Eye dan Proposal Daisakusen tidak menceritakan romansa yang terjadi di masa kuliah sedetil di masa SMA. Dalam kedua tontonan ini, baik tokoh utama laki-laki maupun tokoh utama perempuan tidak lagi berada di lingkungan yang sama. Dalam Proposal Daisakusen mereka berdua kuliah beda jurusan, sedangkan di You Are the Apple of My Eye kedua pemeran utama terpisah jauh antar kota (antar provinsi juga kali ya, biar AKAP). Namun demikian, cerita masih dibawakan dengan menarik karena ada beberapa momen penting yang terjadi saat kuliah tapi tidak terjadi di masa SMA.

Baca Juga:   Tokoh Antagonis

Salah satunya momen ketika hubungan kedua pemeran utama memburuk. Ya, karena di masa kuliah inilah hubungan kedua orang yang saling jatuh cinta di masa SMA itu berantakan. Dan ujung-ujungnya sama: si perempuan menikah dengan laki-laki lain. Entah kenapa kedua tontonan ini sama-sama menjadikan tokoh perempuan yang nikah duluan.

Meski kalau dilihat dari latar, alur, dan penokohan yang dibangun di kedua tontonan ini sama, tapi perbedaan mencolok antara keduanya ada pada endingnya. Silakan kalian nonton sendirilah  biar lebih jelas sensasi dan feel-nya. Udah banyak kok bajakannya di internet.

SMA Oh SMA

Saya menulis ini sebenarnya bukan untuk me-review sebuah film atau drama. Ngapain? Wong yang lain dah banyak yang nge-review kok, dua tontonan ini kan udah jadul. Saya menulis tulisan ini lebih karena perasaan sentimentil yang muncul ketika semalam saya reuni dengan teman-teman SMA, dan pagi ini saya menonton kembali potongan-potongan adegan dari dua tontonan terfavorit saya tersebut. Terkutuklah suggested video dari Youtube.

Usia saya saat ini (masih) 22 tahun, yang sebenarnya kalau dihitung-hitung, saya baru melewati 5 tahun selepas lulus SMA. Tapi berkumpul lagi dengan teman-teman lama, dan menonton potongan-potongan kisah mengenai SMA, membuat saya entah kenapa jadi ingin kembali ke masa putih abu tersebut.

Masa-masa SMA adalah masa-masa terbaik untuk jatuh cinta. Kita bebas jatuh cinta kepada siapa saja, tanpa ada penghalang, tanpa ada beban tanggung jawab, dan kita bebas jatuh cinta hanya karena rasa suka. Tidak perlu alasan yang jelas kalau kamu jatuh cinta di masa SMA. Tidak perlu penjabaran apakah kamu jatuh cinta karena fisik, karena duit, atau karena perintah orang tua yang kebelet punya cucu. Kalau kamu mau jatuh cinta, ya jatuh cinta saja.

Kamu bisa mengekspresikan cintamu dengan bebas di kala SMA. Entah dengan cara kalem seperti kedip mata malu-malu, anggukan-anggukan canggung ketika bertemu, hingga dengan cara bodoh (atau romantis?) yang ekstrem seperti misal nembak dengan membariskan sepeda motor membentuk namanya. Meski saya tidak pernah pacaran, tapi pengekspresian-pengekspresian cinta yang bebas, yang malu-malu, hingga yang bergelora menyala-nyala, pasti terasa saja di lingkaran pertemanan saya, dan mungkin saya juga melakukannya tanpa sadar.

Baca Juga:   Kematian Jonghyun Adalah Tragedi, Kematian Warga Palestina Adalah Statistik

Berbeda ketika kamu jatuh cinta di usia 20-an. Soal perasaan tidak bisa lagi dipikirkan setengah matang. Harus dipikir betul kepada siapa kita jatuh cinta. Sebab, jatuh cinta tidak lagi hanya soal perasaan dua insan. Ego sudah harus mulai ditekan, dan komitmen sudah harus mulai ditanamkan.

Komitmen yang saya maksud di sini adalah yang dibangun di atas rasionalitas. Pada usia ini kamu bukan lagi orang yang tetap bertahan pada pilihanmu hanya karena terlalu cinta atau terlanjur sayang. Mulai ada variabel-variabel lain yang harus kamu perhitungkan: pekerjaan, pola pikir, hingga restu keluarga.

Lagipula jika menjalin hubungan di usia 20-an, menurut saya, sudah bukan lagi sekadar dua orang yang saling suka, tapi dua orang yang memproyeksikan diri masing-masing untuk saling memberi ruang dan saling menerima, yang tentu tujuannya untuk dapat hidup bersama.

Aneh kalau kamu jatuh cinta di usia 20-an, tapi tidak ada pikiran sampai ke sana. Berarti kualitas diri kamu masih sama saja seperti anak SMA. Kamu melihat hubungan yang kamu jalani hanya akan berujung pada perpisahan. Kamu hanya akan berpindah dari satu mantan ke mantan yang lain. Di mana kematangan cara berpikirmu kalau begitu?

Dalam kedua tontonan yang saya ulas di atas, baik You Are the Apple of My Eye dan Proposal Daisakusen, tokoh utama perempuan sudah berpikir cukup matang untuk menikah dengan laki-laki lain selain tokoh utama laki-laki (meskipun di You Are the Apple of My Eye tidak dijelaskan siapa si pengantin prianya. Kalau dilihat dari perawakannya, mungkin bisa disebut sebagai om-om kaya). Sedangkan tokoh utama laki-lakinya? Masih saja nggak bisa move on. Tapi tenang, salah satu dari dua tontonan ini memiliki happy ending dengan bersatunya tokoh utama laki-laki dan perempuan kok. Meski yah….dengan cara yang tidak masuk di akal tentunya.

Makanya, jatuh cintalah dengan cara yang masuk akal.

Tengah malam, kala BSD bermandikan
cahaya purnama 14 Rabi’ul Awwal

2/12/2017

%d bloggers like this: